Thought

How I Met My Husband

I’m not sure whether this story is worth telling or even boring as I can’t tell it in fascinating way. Yet I don’t wanna let this memory just fade over time. I’m trying my best, telling you honestly. Ehe~


2014, waktu itu saya masih kuliah semester 3, masih lucu-lucunya dan baru banget gabung di komunitas Backpacker Tangerang (BPT).

Di grup whatsapp ada teman yang kirim foto hasil perjalanan mereka ke Kerinci. Saya buka fotonya, ada seorang abang-abang (waktu itu saya masih sopan jadi semua cowo saya panggil abang) yang foto sambil megang kertas bertuliskan “Selamat Pagi Serli Zumar, Salam hangat dari Kerinci”. Saya zoom in fotonya; memastikan apakah saya pernah ketemu atau kenal sama abang ini sebelumnya. Saya juga memastikan lagi apakah nama di kertas itu benar nama saya (karena seharusnya Zulmar pakai L), saya cek satu per satu nama member di grup itu. Oke, saya beranikan diri nge-chat di grup, “itu siapa ya?”

Meskipun kemudian saya dicengin satu grup, si abang yang bersangkutan tetap gak menunjukan diri, pun juga gak nge-japri saya kayak abang-abang modus lainnya.

Long story short, foto iseng itu berlalu begitu saja sampai sekitar satu tahun kemudian, tahun 2015, kami berkesempatan ngobrol karena saya sebetulnya penasaran dan lagi-lagi memberanikan diri untuk nanya asal mula foto itu. Ternyata saat di Kerinci, ada temannya yang tulis nama beberapa cewek, iseng lah dia pengin juga (emang dasar mauan) tapi gak tau mau tulis nama siapa, jadilah temannya iseng juga nulis nama saya untuk dia.

Sesimpel dan se-random itu.

Tapi setelah tahu kisah di balik foto itu, kami kembali seperti sebelumnya, jarang sekali komunikasi selain kalau memang ada perlu saja. Gak ada yang japri-japri iseng macam cowok yang suka modus gitu. Gak ada juga kepikiran kalau suatu hari saya akan menikah dengan dia.

Tahun 2017, kami mulai cukup sering berkomunikasi karena selain saya perlu dia untuk bantu beberapa kerjaan saya, kami juga pernah sama-sama jadi volunteer untuk acara yang diadakan BPT.

Di tahun yang sama, habis lebaran Idul Fitri, melalui japri di whatsapp dia tanya rumah saya dimana. Saya tahu dia orang yang iseng dan suka bercanda, saya bercandain balik tapi tetap gak kasih alamat rumah sampai dilempar pertanyaan, “kenapa? takut dilamar ya?”, jawaban saya mungkin agak menantang, “kenapa juga takut, emang lu mau ngelamar gue?” Lalu kalian tahu apa jawaban si orang yang suka iseng itu beberapa jam kemudian? Dia bilang, “insyaallah, kalau memang lu juga belum ada yang ngelamar.”

Saya gak bisa tidur, seriously. Antara takut dan bingung. Saya scroll percakapan sebelumnya, gak ada yang mancing-mancing atau mengarah kesana. Bagi saya saat itu, dia adalah teman yang baik, enak untuk berdiskusi dan pendengar yang baik. Sepenglihatan saya, dia orang yang baik. Hanya sebatas itu. Saya ingat-ingat lagi; dia siapa, asalnya darimana, keluarganya bagaimana, pertemanannya seperti apa. I had no clue. Saya baru sadar kalau saya sebenarnya memang gak tahu apa-apa tentang dia.

Beberapa waktu kemudian, dia benar-benar datang sendiri ke rumah untuk kenalan dan ngobrol-ngobrol dengan Ibu saya. Rasanya canggung dan aneh. Canggung karena pertemuan kali itu rasanya benar-benar beda dari biasanya, dan aneh karena entah bagaimana setelah adanya keraguan dan pergulatan batin, I eventually allowed him to meet my mom.

Kedatangan keduanya beberapa bulan kemudian, dia dengan beraninya bilang ke Ibu saya bahwa dia mau melamar saya. Ini lebih aneh. Lucunya (maaf lho kalau ternyata gak lucu), waktu itu saya gak tahu sama sekali karena dia gak bilang kalau dia mau ke rumah, pun dia yang gak tahu kalau hari itu saya lagi gak masuk kerja dan ada di rumah. Padahal dia sengaja datang pas hari kerja biar saya gak ada di rumah.

Well, I am not going to tell you what specifically he said to my mom and what her response was at that time. Yang saya tangkap saat itu adalah Ibu memberikan penolakan secara halus dengan alibi belum siap karena anak perempuannya baru saja tamat kuliah dan baru beberapa bulan bekerja (anyway, saya anak pertama dan Ibu adalah single parent). Sedangkan yang dia (suami saya saat ini) tangkap saat itu, “Ibunya hanya belum siap tahun ini, mungkin tahun depan sudah siap.” Dia sangat percaya diri, guys!

Selama setahun, pertemanan kami masih sama. Biasa-biasa saja. Kami sama-sama meyakinkan diri bahwa semua kemungkinan bisa saja terjadi. Sebisa mungkin kami menjauhkan harapan (dan baper-baperan) agar tidak dijangkiti rasa sakit dan kecewa. Di balik itu semua, mengandalkan doa dan atas ridho Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati, serta usaha yang ia tunjukkan pada Ibu saya, akhirnya Ibu memberikan ‘lampu hijau’. Alhamdulillah…

Syawal lalu Syahrial membawa keluarganya dan melamar saya (lagi) di hadapan keluarga saya.

Dua bulan kemudian, setelah lebaran haji, tepatnya 1 September 2018, saya dan Syahrial sah secara agama dan negara menjadi suami istri.

Nih buktinya 😝

Hehehe ~

Jangan lupa doakan kami, “barokallahu laka wa baroka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khayr.” :)


Sedikit tambahan, dari awal proses kami saling berkenalan (lagi) sampai sebar undangan, kami memang gak mempublikasikannya. Jadi gak banyak yang tahu selain beberapa teman dekat. Karenanya, gak sedikit yang terkejut saat tahu kami akan menikah, sebab memang gak kelihatan ada ancang-ancangnya. Pun teman-teman saya yang lumayan penasaran dengan awal mula dan bagaimana saya bisa kenal sama suami saya.

That’s why this story written. :)

 

Tangerang Selatan,

5 Oktober 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *