Storiette

Kepada Mei, Tentang April

Selamat sore, Mei,

Bagaimana kabarmu? Terima kasih telah berkenan membaca surat-suratku ini. Sebentar lagi kita bertemu, barangkali kau tertarik untuk kuperkenalkan langsung dengan April; pemilik rindu yang kuceritakan padamu dalam surat sebelumnya?

Tak ada yang istimewa darinya, awalnya. Sungguh. Sampai sekali waktu aku melihat warna kekecewaan di raut wajahnya, dan dalamnya luka pada tatap matanya. Sejak itu dia menjadi seorang yang begitu penting bagiku, yang dengan sebegitunya aku menginginkan dia untuk ada di masa depanku.

Aku tahu ini belum saatnya, Mei. Tak apa jika dia masih ingin bermain-main dengan waktu, bekelana sejauh apapun yang dia mampu, berjalan terus tanpa ragu. Tak apa. Aku pun tak bisa memerintah hatiku untuk tak menunggu. Karena menjaganya dengan doa adalah sebaik-baik usahaku saat ini.

Tak apa hadirku kini tak bermakna. Aku hanya tengah berusaha; memintanya pada sang pencipta. Jika kelak dia sudah lelah, semesta akan berkonspirasi sedemikian rupa hingga aku menjadi tempat yang dia pilih untuk tinggal dan menetap.

Ah, sudah dulu, Mei. Aku tiba-tiba rindu padanya. Tentu saja, rindu juga padamu. Akan kulanjutkan lagi nanti di kemudian hari.

 

Salam,

Yang diam-diam mendoakannya

 

Tangerang, 19 Maret 2018

1 thought on “Kepada Mei, Tentang April

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *