Laa Tahzan

Sungguh beruntung bagi orang-orang yang senantiasa menjaga hatinya. Yang tidak mudah meletakkan pengharapannya kepada manusia. Yang tidak menyandarkan perasaan kepadanya, tak juga mencurahkan cintanya. Sebab bagi seseorang yang terjaga hatinya, adalah Allah satu-satunya tempat untuknya berharap, bersandar, dan mencurahkan segala rasa.


Tulisan ini dipersembahkan untuk teman terbaik, yang tengah membangun kembali cintanya dengan Allah, setelah sekian lama terlupakan karena kecintaan kepada manusia.

Sahabatku, beberapa waktu lalu kudengar kabarmu buruk, hatimu kelabu, wajahmu murung. Kau berbisik lirih, kau patah hati. Seorang yang kau kasihi memutuskan untuk pergi, katamu, beranjak dari kebersamaan yang telah kalian jalani selama ini. Hal yang bagimu begitu pilu meski kau kini sepenuhnya merelakan, sebab perginya bukan karena ia berhenti mengasihi, melainkan memperbaiki diri untuk kelak datang kembali menemui sang wali. Itulah kira-kira yang kau yakini. Aku mengerti.

Laa ba’sa, wa laa tahzan…

Hanya karena seseorang pergi, tak berarti kehidupan berhenti. Melainkan pembelajaran bagi diri, untuk menjadi sebaik-baik pribadi.

Kau benar, sahabatku. Jika dia benar mencintaimu, maka kepergiannya adalah cara paling baik yang saat ini bisa dia lakukan untukmu. Karenanya bersyukurlah, kepergiannnya telah menyadarkanmu bahwa sebaik-baik cinta adalah yang di dalamnya terdapat ridho Allah.

Kau tahu? Ada banyak orang yang masih tersesat dalam hubungan semacam ini dan pada akhirnya binasa disebabkan oleh kesombongannya menerima ketetapan dan kebenaran yang Allah sampaikan. Maka apa yang Allah pilihkan bagi dirimu adalah yang terbaik, dan kau harus meyakini. Allah amat sangat mencintaimu karenanya Dia pisahkan kalian sebelum halal cinta itu bagi kalian. Allah ingin menyelamatkanmu dari kebinasaan itu dan agar kau belajar mencintai-Nya dengan sempurna sebelum kau mencintai makhluk-Nya.

Aku teringat sebuah hadits,

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR Ahmad:23074)

Dan aku yakin kau juga ingat sebuah ayat,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh:216)

Tidakkah perkataan Allah dan Rasulnya tersebut cukup membuat hatimu tenang dan jauh dari keresahan, sahabatku?  Karena sudah pasti, apa yang terjadi padamu adalah yang terbaik bagimu. Pun juga hubungan yang kau tinggalkan karena-Nya akan tergantikan dengan sesuatu yang lebih baik dan akan amat kau syukuri nantinya. Percayalah, Allah adalah satu-satunya yang tidak akan pernah mengecewakanmu.

 

Tangerang, 23 Juni 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *