Lelaki yang Menunggu Hujan

Storiette

 

PhotoGrid_1438231944312
Credits to Line Deco

Setiap sore dia berjalan menyusuri kota. Menggengam harapan yang sama besarnya dengan rindu. Lalu duduk termangu di bangku taman yang hampir reyot kayunya. Masih menggenggam harapan yang sama besarnya dengan rindu. Matanya menelusuri setiap sudut yang bisa dijangkau penglihatannya. Kemudian kembali tertunduk memandangi ujung sepatunya.

Menjelang senja, dia memandang ke luar jendela. Menggenggam pena yang sama lapuknya dengan dirinya. Lalu jemarinya menuliskan kata-kata yang tak pernah ia suarakan. Masih dengan kertas yang sama pudarnya dengan hari-hari lalu. Matanya memejam. Hatinya perih.

Lelaki itu bagai pohon yang meranggas akibat musim kemarau, sedang hujan yang diharapnya masih menggantung di langit.

Semesta hanya bergeming.

Tak ada pesan dari hujan terakhir yang mengguyur ranah hatinya. Menumbuhkan rindunya.

Lelaki itu telah sampai pada malamnya.

Matanya sayu. Hatinya riuh tak henti berseteru.

Lelaki itu lelah. Puisi-puisinya tak pernah sampai ke penerimanya. Juga rindunya yang tak pernah pulang. Sebab rumah yang ditujunya datang bersama hujan, dan kini menghilang saat kemarau panjang.

Kepada angin yang berembus di penghujung malam, adakah kabar baik untuk lelaki yang kehilangan itu? Sebab aku iba kepadanya, lelaki yang sedang kutatap pantulannya di cermin.

 

Lubuklinggau, 30 Juli 2015

1 thought on “Lelaki yang Menunggu Hujan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *