Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi

Poem

Sia-sia

Penghabisan kali ini kau datang
Membawa kembang berkarang
Mawar merah dan melati putih
Darah dan Suci
Kau terbarkan padaku
Serta pandang yang memastikan: untukmu
Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama. Tak hampir-menghampiri

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi

Chairil Anwar, Pebruari 1943

 


 

Tuan, sudikah kiranya engkau mengulang lagi sajak itu?

Sudah sejak lama saya mencari, namun tak jua mendapati maknanya.

Demi mendengar suara Tuan, berapa harga yang harus saya bayarkan?

Atau, berapa lama waktu yang harus saya habiskan untuk menunggu?

Saya masih ingat betul, pertama kali tatap mata kita bertemu. Dengan cepat Tuan mengalihkan, padahal saat itu secara tidak sengaja saya ingin berlama-lama tenggelam di hitamnya bola mata Tuan. Sendu.

Saya juga masih ingat betul, bagaimana semesta secara sengaja mempertemukan kita. Dengan sedemikian rupa kebetulan-kebetulan yang mengikuti setelahnya. Sampai kiranya saya belum menyadari, pikiran kita ternyata saling bertukar, saling berkawan.

Tuan, masih ingatkah kali pertama kita duduk saling menghadap? Sekuat hati mengusir canggung. Menolak berdiam dan melewatkan waktu.

Kita sama-sama tahu. Kita sama-sama paham. Tapi tak sama-sama mengakui. Terlalu menjunjung gengsi.

Padahal, kalau saja kita bisa sekali lagi duduk berhadapan, lalu berhenti bungkam. Mungkin kita bisa bersama-sama menata ulang.

Tidakkah Tuan lelah? Bertahun-tahun hidup dalam kebohongan pada diri sendiri. Meyakinkan diri sendiri dengan kenyataan yang tumbuh hanya dalam imajinasi Tuan. Tidakkah Tuan ingin mengakui?

Tidakkah Tuan ingin juga saya mengakui?

Bahwa kita sama-sama mendapati lelahnya menunggu. Dengan bisik-bisik semilir angin yang diutus semesta. Dunia menertawakan.

“Mampus kau dikoyak-koyak sepi!”

2 thoughts on “Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *