Voyage

Merah Putih di Puncak Seminung

Mungkin sebagian besar orang sudah terbiasa mendengar nama Rinjani, Semeru, Kerinci, atau Papandayan. Tapi sangat jarang orang mendengar nama Seminung. Bahkan untuk masyarakat di daerah Sumatera Selatan pun nama itu masih terdengar asing dibanding Dempo. Sebab selain karena akses yang sulit dijangkau, barangkali karena kurangnya kepedulian pemerintah untuk mengembangkan daya tarik wisata tersebut.

Sebagai pengenalan, Seminung adalah gunung dengan ketinggian 1881 MDPL yang terletak di antara Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Yang menjadi keistimewaannya adalah Danau Ranau yang yang terdapat di kaki gunung.

**

Sabtu, 15 Agustus 2015

Setengah jam sebelum jadwal keberangkatan kereta, saya dan rombongan BPK Oi Palembang berjumlah total 25 orang sudah berkumpul di Stasiun Kertapati. Karena tidak ada akses yang bisa ditempuh langsung menggunakan kereta api, maka kami akan transit di stasiun terdekat dari lokasi, Stasiun Baturaja, untuk kemudian berganti kendaraan.

Seru-seruan di kereta
Seru-seruan di kereta

Sekitar pukul 13.00 kami tiba di Stasiun Baturaja. Sambil menunggu travel yang sudah dipesan sebelumnya, kami menyempatkan untuk makan siang terlebih dahulu. Usai mengisi perut, kami kemudian bertolak menuju Desa Kotabatu, Ranau. Hampir sepertiga perjalanan kami habiskan untuk tidur, selain karena perjalanan yang memakan waktu tempuh hingga kurang lebih empat jam, juga karena ruang gerak kami di mobil sangat terbatas, jadi tidak banyak hal yang bisa kami lakukan.

Tepat saat adzan maghrib berkumandang, kami tiba di Desa Kotabatu. Di sana kami singgah di rumah salah satu kenalan dari Fals Mania Lampung. Setelah beristirahat dan mengatur ulang rencana pendakian, kami mulai bergerak sekitar pukul 23.00 WIB. Kami memilih menyusuri tepi danau untuk mencapai kaki gunung. Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk tiba di objek wisata pemandian air panas Danau Ranau dan bermalam di salah satu gazebo di sana.

Minggu, 16 Agustus 2015

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terlihat, kami sudah bangun dan membuat sarapan untuk mengisi tenaga sebelum memulai hari yang pasti melelahkan. Setelah mengepak kembali barang-barang dan perlengkapan, pukul 08.30 kami memulai langkah pendakian. Jalur yang kami lewati sebagian adalah kebun kopi milik warga setempat yang banyak cabangnya, berbekal pengalaman salah seorang teman yang sudah pernah mendaki ke sana, kami tidak terlalu khawatir untuk jalur tersebut.

Pukul 10.00 WIB, kami tiba di pos 1 yang ditandai dengan adanya langgar. Di sebelah langgar ada rumah salah satu warga yang juga merupakan sumber air terakhir yang bisa kita peroleh sepanjang pendakian, karena di puncak pun tidak tersedia sumber air. Jadi sekalian beristirahat sejenak, kami mengisi botol-botol minum yang (hampir) kosong sebagai bekal selama perjalanan kami sampai turun esok hari.

Meski ketinggiannya kelihatan tidak seberapa, tapi Seminung tidak bisa begitu saja diremehkan. Terbukti dengan trek yang terus menanjak tanpa bonus membuat kami agak kewalahan. Belum lagi kondisi cuaca hari itu cukup cerah cenderung panas, menambah siksa dengan kerongkongan yang cepat mengering.

Setelah dua jam berjibaku dengan debu-debu akibat tanah kering yang kami pijaki, akhirnya kami tiba di pos 2. Selama beberapa menit kami beristirahat sambil menunggu rombongan yang masih tertinggal di belakang.

Jalur yang sedikit bersahabat
Jalur yang sedikit bersahabat

Khawatir akan tiba terlalu sore maka kami menyegerakan untuk melanjutkan pendakian. Singkat cerita, jalur dari pos 2 menuju puncak sama ekstrimnya. Malah lebih parah dengan banyaknya batang pohon yang melintang dan mengharuskan kami untuk menunduk atau melangkahinya. Sekitar setengah jam sebelum puncak, akan banyak sekali ditemui puncak bayangan (kami menyebutnya puncak PHP) . Vegatasi yang terlihat mulai jarang dan sinar matahari yang lebih terlihat mengecoh kami yang mengira itu adalah puncak.

PhotoGrid_1459311780817

Pukul 14.30 WIB, kami tiba di puncak sungguhan. Ditandai dengan adanya papan bertuliskan “Gn. Seminung” dan pondokan yang terbuat dari seng yang berada tidak jauh dari papan tersebut. Lahan di puncak tidak terlalu luas. Hanya cukup manampung sekitar 3 tenda berkapasitas 4, itupun dengan jarak yang agak berjauhan.

Malam hari di puncak Seminung adalah yang terbaik di antara pendakian lainnya. Bagaimana tidak, usai berpeluh dan berlelah-lelah selama kurang lebih enam jam, malam harinya kami dihadiahi cuaca yang bagus dengan langit cerah. Sejauh mata memandang, ribuan bintang cemerlang menghiasi langit yang kami tatap. Bahkan beberapa kali kami menyaksikan bintang jatuh yang pastinya tidak akan kami dapatkan ketika berada di kota.

Senin, 17 Agustus 2015

Mentari terbit pagi itu tak kalah cantiknya, menyambut kami dari ufuk timur. Tidak ada yang ingin mengabaikan apalagi melewatkan momen indah itu. Semua mengabadikannya dalam potret kamera.

PhotoGrid_1459311750040

PhotoGrid_1459311722937

PhotoGrid_1459311689755

Bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia, kami tentunya melaksanakan upacara sederhana. Semua peserta upacara begitu takzim ketika pengibaran bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

PhotoGrid_1459312724093
Foto bersama setelah upacara

 

Setelah bereuforia di puncak, bukan berarti semuanya usai. Perjalanan turun masih panjang. Tapi kali ini agaknya lebih mudah, karena dari puncak hingga pos 1 bisa ditempuh dengan waktu satu jam. Dari pos 1 ke danau ranau juga memakan satu jam karena jalur yang kami pilih lebih jauh dari ketika berangkat kemarin.

PhotoGrid_1459311532079

Sore itu di kaki Gunung Seminung, kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati segarnya air Danau Ranau dan hangatnya pemandian air panas di sana. Sampai pukul 6 sore, barulah kami beranjak menyebrang ke Kotabatu menggunakan kapal. Kami singgah lagi dan bermalam di rumah salah satu kenalan dari Fals Mania Lampung kemarin.

Selasa, 18 Agsustus 2015

Kami baru bertolak menuju Palembang sekitar pukul 09.30 WIB dengan rute yang sama; turun di stasiun Baturaja dan melanjutkan perjalanan dengan kereta api sampai ke Palembang.

**

Estimasi waktu dan biaya:

15 Agustus 2015

  • 08.30-13.00 : stasiun Kertapati – stasiun Baturaja (Rp 35.000-,)
  • 14.00-18.00 : stasiun Baturaja – desa Kotabatu (Rp 50.000-,)
  • 23.00-01.00 : desa Kotabatu – kaki gunung Seminung

16 Agustus 2015

  • 08.30-10.00 : kaki gunung – pos 1
  • 10.00-12.00 : pos 1 – pos 2
  • 12.30-14.30 : pos 2 – puncak

17 Agustus 2015

  • 11.00-12.00 : puncak – pos 1
  • 14.00-15.00 : pos 1 – kaki gunung
  • 18.00-18.15 : kaki gunung – desa Kotabatu (Rp 10.000-,)

18 Agustus 2016

  • 09.30-13.30 : desa Kotabatu – stasiun Baturaja (Rp 50.000-,)
  • 16.00-20.00 : stasiun Baturaja – stasiun Kertapati (Rp 35.000-,)

 

Foto-fotonya menyusul yaaa ^^

15 thoughts on “Merah Putih di Puncak Seminung

  1. Wah, senengnya..
    saya seumur-umur belum pernah mendaki..
    Saya juga baru denger ni Puncak Seminung..
    Pasti keren banget bisa ngelihat bintang-bintang dari puncak gunung..
    Ah, pengen banget pokoknya..

  2. Seperti yang mbak serli bilang. Jarang ada dengar nama gunung seminung. Benar banget gue baru tau nama gunung itu. Lagian gue juga gak terlalu suka yang namanya mendaki ataupun mencari info tentang gunung. Karena gue takut dengan alam (binatang dan sebagainya) terus gue takut sama ketinggian. Jadi yah mending diam dikaki gunung aja, daripada harus ikutan naik.

  3. Aku baru tau ada nama gunungn seminung, mungkin akunya aja kali ya yang terlalu ndeso. Aku suka sama mendaki gunung, tapi belum pernah ngedaki. *ini kode*

  4. Seru kali ya mendaki gunung. Seumur2 belum pernah mendaki gunung.. cupu! Hehe

    Hebat bgt blog ini. Super lengkap untuk para newbie yang mau naek gunung. Apalagi ada estimasi dananya. Biar sesuai kantong.. hoho

  5. wah seru juga naik gunung pas tanggal kemerdekaan. bisa upacara dari ketinggian sambil melihat pemandangan gitu pasti seru banget ya.

    ditunggu foto-fotonya ya kak..

  6. Wah, sayang gak ada fotonya ya. Jadi kurang bisa bayangin indahnya Gn. Seminung.
    Hmm.. Lama juga ya naiknya. Seumur2 belum pernah naik gunung. Kayaknya capek betul.

  7. cool li.. cuman kurang greget nih soalnya g ada dokumentasinya. jadi bayangan soal perjalananmu kali ini g terlalu berasa asoy.
    aku sendiri baru naik gunung 1 kali sih, pernah juga jalan sampai puncak bayangan di gunung manglayang tapi habis itu langsung pulang. kalau disuruh milih, aku lebih suka snorkeling ketimbang naik gunung. hehehe..

  8. membaca cerita ini jadi inget waktu naik gunung dan pingin naik gunung..
    apalagi pas mengibarkan bendera di puncak itu rasanya bahagia..
    oh iya kok foto2nya gak ada?

  9. Seru pastinya bisa menghabiskan waktu di puncak gunung. Seumur hidup aku belum pernah tuh mendaki gunug.. hehe. Semoga aku bisa ngerasain rasanya mendaki gunung, melewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman berpetualang.. lho itu lagunya ninja hatori.

    Next post. Kalo bisa dikasih foto biar greget..

  10. Sayangnya postingan ini gak ada pictnya, huhu kalo ada nih bakalan lebih menarik lagi nih…:D. Ditunggu nih foto2nya…

    Di puncak, bawa bendera lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya? Gak ada kata selain merinding dan terharu

  11. wah nice nih, memperkernalkan gunung yang nggak terlalu familiar. hmm, area lampung2 itu terkenal sama pantainya sih ya, jadi gunungnya nggak terlalu terekspos. sementara jawa, gunung sama pantainya sih sama-sama terekspose dengan baik. tapi, naik gunung belum asik memang kalau nggak ada foto2 nya :)

    1. Wah kurang paham juga tuh saya soal taneman2.
      tapi yang saya tau ada edelweis, akar manis, alpukat. selebihnya kurang tau ehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *