Merayu Hujan

Storiette

 

IMG_20150624_215139
Credits to Line Deco

Aku menghela napas panjang. Pelan tanganku menyentuh kaca yang berembun. Malam ini hujan turun lagi. Hujan yang sebenarnya tak begitu deras, hanya gerimis yang cukup untuk menghasilkan bunyi gemercik di luar.

Hujan mengetuk-ngetuk jendela, tapi malah pintu kenanganku yang terbuka.

Kedai kopi ini penting. Sangat penting sampai setiap malam aku harus meneguk –paling tidak– secangkir kopinya, lalu begadang semalam suntuk untuk melanjutkan sebuah cerita yang tak pernah sengaja terangkai. Dan malam ini, cerita itu harus usai.

“Kau harus ikut!” katanya memaksa, meski aku sudah beralasan untuk menolak ajakannya itu.

Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat itu. Aku masih ingat betul. Setengah tahun yang lalu. Di kedai ini, dia menyatakan rencananya untuk ‘melarikan diri’ ke Cikuray. Dan aku masih ingat betul bagaimana cara dia mulai membujuk sampai memaksaku untuk ikut. Oh, ayolah, dia tahu aku sudah berhenti mendaki sejak lama.

Kalau saja saat itu aku tidak kalah dan bisa menolak ajakannya, mungkin aku tidak akan pernah menghabiskan waktuku untuk berlama-lama duduk dikedai ini, menyelesaikan tulisan yang belum kuputuskan bagaimana mengakhirinya.

Belum sampai setengah hari, hujan yang kita kira sebelumnya hanyalah kondensasi, menyerbu dengan tiba-tiba. Deras sekali. Kita lekas mengeluarkan ponco dari ransel masing-masing, lalu melanjutkan perjalanan sambil menertawakan kebodohan masing-masing.

Tak banyak pendaki yang kami temui sepanjang perjalananan. Hanya ada beberapa orang yang sudah turun. Mungkin karena ini bukan akhir pekan, jadi hanya sedikit yang mendaki ke sini.

“Aku capek,” keluhku sambil bersandar pada sebuah pohon besar yang di batangnya ada papan tanda ‘Pos 4’. Jalur ini cukup kejam. Dengkul ketemu dada ketemu dahi (3D). Lututku terasa lemas, ditambah beban 40 liter di punggungku yang hampir membuatku terpikir ingin kembali ke basecamp, menunggu hujan reda lalu pulang ke Jakarta.

Dia menoleh ke arahku. Lalu terkekeh geli, “kau bercanda? Aku tidak pernah mendengarmu mengeluh capek selama ini.”

“Aku kan perempuan. Lemah,” aku balas memandangnya dengan wajah memelas. Memohon untuk istirahat agak lama.

“Kau perempuan. Tapi tidak lemah.”

“Kau perempuan paling tangguh yang pernah kukenal,” lanjutnya sebelum aku sempat merespon kalimat sebelumnya. Dia lantas pergi dan aku hanya tertegun menatap ransel besar dari balik punggungnya.

Butuh sekitar dua jam lebih untukku tiba di pos terakhir sebelum puncak.

Sore itu hujan sudah reda. Tapi ada dingin yang tiba-tiba menerobos masuk melalui angin yang berhembus.

Menembus hati.

Menghujam perasaan.

Aku tidak tahu bagaimana kehadirannya selama ini sangat berpengaruh dalam hidupku. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar bagiku. Sejak kita masih berseragam abu-abu.

Pertemanan kita biasa-biasa saja. Kita pernah melakukan perjalanan yang lebih jauh dari sekedar Jawa Barat, mendaki gunung yang lebih tinggi dari Cikuray. Tapi entah kenapa, berada disini bersamanya terasa berbeda. Ada yang diam-diam menelusup dalam keheningan.

Sore itu kita hanya menghabiskan senja dengan percakapan diam. Berdialog dalam hampa. Lalu malamnya terlewati dengan pikiran yang saling berpeluk dengan dingin. Ada yang diam-diam membeku dalam kesunyian.

Esoknya, pagi-pagi sekali sebelum subuh, dia membangunkanku. Menjerang air untuk kopi, lalu keluar dari tenda untuk menghirup udara pagi yang masih sangat dingin. Lama sekali aku tak pernah bangun dengan badan sesegar ini.

Langit masih agak gelap. Usai menghabiskan secangkir kopi, aku mengajaknya ke puncak.

Buruan sedikit, keluhku dalam hati.

Aku tak sabar ingin segera tiba. Lama sekali sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di puncak gunung. Lama sekali sejak terakhir kali aku menyaksikan matahari yang terbit berseri dengan warna keemasannya. Merambatkan hangat di jiwa. Menyambut pagi.

“Selamat pagi, Sierra,” dia –lelaki yang tak akan kusebutkan namanya– tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku. Aku terlalu takjub menikmati momen itu sampai tak menyadari bahwa sedari tadi tangannya memegang kamera sambil merekamku.

“Eh, halo selamat pagi,” aku melambai pada kameranya.

Dia memutar kameranya, merekam dirinya sendiri, “Sierra hari ini cantik, sama cantiknya seperti matahari yang terbit itu.”

Aku hanya menyengir, dia selalu mengulang kalimat itu di setiap rekaman videonya saat mendaki bersamaku. Sudah lama sekali rupanya.

Sepagian itu percakapan kami ringan-ringan saja. Kami banyak tertawa. Sangat kontras dengan kemarin sore.

Satu hal yang mungkin aku lewatkan, yang sama sekali tidak aku sadari. Ada yang berubah. Sayang, aku baru tahu setelah dua bulan lalu, atau empat bulan setelah pendakian itu.

Kedai kopi ini setia. Dan mungkin itu sebabnya aku selalu ingin menikmati potongan-potongan kenangan itu. Begadang semalam suntuk untuk menyelesaikan tulisan yang belum kuputuskan bagaimana mengakhirinya.

Dia. Aku tidak tahu bagaimana kehadiranku selama ini di matanya. Dia tidak pernah mengutarakan keluhan apapun tentangku sepanjang delapan tahun pertemanan kita. Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa akulah yang kerap menjadi penyebab pertengkarannya dengan kekasihnya. Dia membelaku ketika kekasihnya mencemburuiku.

Dia tahu banyak hal tentangku.

Dan aku baru menyadari bahwa sepanjang delapan tahun pertemanan kita, aku hanya tahu sedikit tentangnya.

Dua bulan lalu, atau empat bulan setelah pendakian itu, aku menerima surat yang disampaikan melalui salah seorang barista di kedai itu. Bagian depannya bertuliskan namaku.

Dear, Sierra

Apa kabar? Semoga ketika menerima surat ini, kau dalam keadaan baik dan sehat selalu. Karena aku selalu berdo’a agar Tuhan selalu memberi perlindungan pada sahabat kesayanganku ini.

Sayangnya, aku tidak dalam keadaan yang cukup sehat saat menuliskan surat ini. Beberapa hari ini aku hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit. Aku tidak bisa kemana-mana. Tidak bisa menemanimu duduk berlama-lama mencumbui kopi di kedai itu. Padahal aku sangat ingin, Sierra.

Maafkan aku jika surat ini mengganggumu dengan kabar yang tidak baik dariku. Setelah beberapa bulan tidak menghubungimu, tidak menemuimu, akhirnya aku menyerah. Aku rindu padamu, Sierra. Aku tidak bisa begitu saja pergi tanpa menyampaikan apapun padamu.

Waktu aku memutuskan mengajakmu ke Cikuray, sebenarnya sudah sangat lama aku merencanakannya. Sudah lama sekali sejak kita terakhir kali mendaki. Tepatnya, kau yang sudah lama berhenti dari kegiatan ini.

Sierra, kau adalah perempuan paling tangguh yang pernah kukenal. Bisakah kau berjanji satu hal saja padaku?

Aku ingin kau mulai lagi petualanganmu. Aku ingin Sierra-ku yang dulu begitu antusias mengenalkanku pada alam.

Selepas kau memutuskan berhenti, aku seperti tak menemukan Sierra pada dirimu. Aku tahu kau sebenarnya tak ingin. Hanya saja ingatan tentang lelaki itu membuatmu takut mengorek luka lebih dalam lagi. Tapi kau tidak bisa terus lari dari kenyataan. Maka berjanjilah untuk mendaki gunung lagi, Sierra. Karena pada dirimu, aku pernah menemukan semangat. Aku menemukan semangat untuk sembuh itu darimu, Sierra. Dan pada dirimu juga, aku menemukan cinta. Seperti cinta yang sejak lama terus bertumbuh seiring pertemanan kita.

Bahkan hingga aku menuliskan surat ini, cinta itu tak turut layu bersamaku.

Maka berjanjilah untuk mendaki gunung lagi, Sierra. Berjanjilah untukku.

Sahabatmu,

Reza

Aku tepekur lama. Menatap lamat-lamat surat itu.

Reza, ­–akhirnya aku bisa menyebut namamu– kau selalu tahu setiap hal tentangku, sedangkan kau menyimpan masalahmu sendirian. Bagaimana bisa?

Hujan di luar seperti merepetisi kenangan.

Menembus hati.

Menghujam perasaan.

Kejadian-kejadian itu melintas cepat, berebutan memenuhi seluruh ruang memoriku. Wajahnya yang tersenyum, masa-masa sekolah, pertama kali mendaki gunung dengannya, perbincangan di kedai kopi, hujan di perjalanan, menanti matahari terbit di puncak Cikuray.

Sejak dua bulan lalu setelah surat itu, aku datang ke kedai ini setiap malam. Meneguk paling tidak secangkir kopi, lalu begadang semalam suntuk untuk menyelesaikan tulisan yang belum kuputuskan bagaimana mengakhirinya.

Tapi malam ini, aku hanya akan memesan secangkir kopi hitam. Mengenang kembali semua itu dengan napas yang lebih lapang. Sudah kuputuskan bagaimana akhir tulisanku.

Hujan masih menyisakan titik-titik air.

Malam ini, aku pulang sebelum tengah malam. Menyusuri jalanan yang basah dengan ransel besar bersandar di punggung.

Malam ini, cerita itu sudah usai.

 


 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *