Montessori, Mulai Dari Mana?

#30HariBercerita Parenting
Credits to instagram.com/ottokim

Melanjutkan tulisan kemarin mengenai perkenalan prinsip filosofi Montessori, masih bersumber dari podcast-nya bu Damar, saya merangkum beberapa poin mengenai hal apa yang pertama kali perlu dipersiapkan untuk mulai menerapkan Montessori.

Montessori dulunya dikembangkan oleh seorang dokter bernama Maria Montessori dari hasil penelitiannya terhadap perkembangan intelektual anak, yang pada awalnya diterapkan kepada anak yang mengalami keterbelakangan mental, yang ternyata efektif juga untuk anak-anak normal.

Kebutuhan anak-anak itu bukan hanya makan, minum, tidur, berpakaian, melainkan juga kebutuhan untuk berkembang. Dalam Montessori biasa disebut sensitive periods, di mana otak anak memiliki timeline tertentu untuk mempelajari skill tertentu. Kebutuhan untuk berkembang lain yang dibutuhkan anak adalah five areas of development (5 area tumbuh kembang), anak akan menjadi pribadi yang seimbang.

Tidak ada yang salah dari anak-anak. Tidak ada yang buruk dari anak-anak. Yang perlu diubah adalah mindset orang-orang dewasa dalam memandang anak-anak. Apa yang kita lakukan diusahakan untuk tidak menghalangi kebutuhan tumbuh kembang anak. Sehingga tidak terjadi deviasi pada tumbuh kembang anak.

Prinsip-prinsip yang harus diadaptasi untuk memulai Montessori parenting:

  1. Prepared Adult
    Siapkan diri sendiri dulu, kita harus mau belajar dan memahami tentang tumuh kembang anak. Dengan memahami sensitive periods dan five areas of development anak, kita bisa lebih memahami anak. Hal ini juga membuat kita bisa mengatur ekspetasi dan emosi kita terhadap anak.
  2. Prepared Environment
    Kita harus menyiapkan lingkungan agar anak mempunyai kebebasan dan kemandirian untuk mengembangkan tumbuh kembangnya dengan aman meski dalam pengawasan yang minim. (a) Tidak perlu fokus untuk mebeli barang-barang Montessori, yang perlu dilakukan pertama kali adalah decluttering, yaitu dengn menyingkirkan hal-hal yang berbahaya jika anak menjangkaunya. Decluttering juga termasuk menghindarkan hal-hal atau benda-benda yang kita tidak inginkan anak untuk mengeksplornya (misalnya komputer/laptop orangtua). (b) Hadirkan kemandirian anak dengan menyimpan mainan di tempat yang dia bisa mengambil dan menyimpannya sendiri, atau meletakkan cemilan dan minuman di atas meja yang pendek agar anak bisa mengambilnya sendiri. (c) Prepared environment tidak hanya terbatas pada hal fisik seperti benda, melaikan juga hal nonfisik seperti cara kita berbicara dan bereaksi terhadap orang lain. Seperti bahasan pada rangkuman sebelumnya mengenai perumpamaan otak anak seperti spons yang mudah menyerap, prepared environment adalah untuk memastikan bahwa anak hanya menyerap hal-hal yang baik.
  3. Observasi
    Obervsasi adalah backbone-nya Montessori. Setiap anak mempunyai individual development dan timeline yang berbeda dalam tumbuh kembangnya. Observasi dibutuhkan agar kita bisa memahami atau melihat kebutuhan anak. Observasi dilakukan secara objektif, mundur sedikit ke belakang untuk melihat kebutuhan apa yang belum terpenuhi. Meski menggunakan prinsip yang sama, namun penerapannya kepada setiap anak tidaklah sama. Itulah mengapa observasi penting dilakukan oleh masing-masing orangtua, misalnya dengan mencatat hal-hal yang dilakukan anak dan mencocokkan dengan sensitive periods atau five areas of development-nya.
  4. Freedom with Limitation
    Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa anak yang dididik dengan metode Montessori adalah anak yang sangat bebas dan ada ketakukan bahwa anak akan menjadi sulit diatur karena terbiasa dibebaskan. Ini adalah hal yang perlu diluruskan, bahwa Montessori tidak sebebas itu. Ada batasan yang diterapkan agar anak mengerti bahawa kebebasannya dibatasi oleh kebebasan oranglain yang sama besarnya. Jadi jangan sampai kebebasannya mengganggu kebebasan orang lain. Dalam Montessori ada 5 batasan yang diterapkan:

    1. Tidak menyakiti diri sendiri
    2. Tidak menyakiti orang lain
    3. Tidak merusak materials (barang/benda)
    4. Tidak merusak lingkungan
    5. Sesuai dengan individual development

    Di luar dari lima tersebut, kita dianjurkan untuk membebaskannya. Jika anak melanggar batasan tersebut, kita bisa langsung mengintervensinya, namun tetap harus menghormati anak dengan tidak memarahi dan menghukumnya.

  5. Being respectfulMontessori melihat anak sebagai individu yang berbeda dan terpisah dari kita, yang memiliki perasaannya sendiri, pendapatnya sendiri, timeline atau pengaturan waktu sendiri, cara sendiri untuk belajar. Cara kita memperlakukan anak adalah sama dengan kita memperlakukan orang dewasa lainnya. Kita tidak memaksakan agenda kita dalam tujuan timeline dan tumbuh kembang anak. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik untuknya. Yang terbaik untuk anak adalah berdasarkan observasi, bukan dari kita yang menentukan.

PS: Berbeda dengan penerapan Montessori di sekolah, pada usia 0-3 tahun, penerapan Montessori tidak terlalu menggunakan materials, kita hanya menggunakan apa yang ada di rumah, karena anak masih mempelajari dunia yang baru untuknya terutama lingkungan keluarga dan rumahnya.

 

Tangerang, 24 Januari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *