Nikah Muda?

Thought, Life

unnamed

Menikah adalah peristiwa yang sakral dan merupakan suatu keputusan yang besar dalam hidup. Bukan hanya merupakan penyatuan dua insan yang saling mencinta, melainkan dua keluarga yang tidak saling mengenal sebelumnya.

Bagi sebagian orang, menikah di usia muda merupakan hal yang tabu. Bahkan bagi perempuan, menikah di usia muda biasanya akan diikuti dengan pertanyaan negatif.

Sebagian orang lainnya menyatakan akan menikah ketika sudah mapan. Wait! Bahkan kita sendiri sebenarnya tidak tahu pasti ukuran kemapanan seseorang untuk menikah. Harus punya rumah dulu? Mobil? Gaji 15 juta per bulan?

Menikah memang merupakan sesuatu yang rumit, kompleks, melibatkan fisik, mental, pikiran, serta keberanian menempuh pola hidup yang berbeda dengan yang selama ini dijalani.

Dalam pandangan perempuan, saya seringkali mendengar sendiri pernyataan yang dilontarkan mereka tentang menikah muda. Banyak yang bilang ingin bekerja dulu, menjadi wanita karir, atau mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Well, saya pun demikian, saya setuju dengan tanggapan merek yang ingin bekerja atau menjadi wanita karir. Tapi, saya juga tidak bersikap anti pada nikah di usia muda.

Salah satu alasan paling utama saya mendukung nikah muda adalah menjauhkan diri dari berbagai dosa, terlebih yang disebabkan karena pacaran. Bukankah pacaran setelah nikah lebih asyik? 

Kita yang sudah menikah tentunya tidak perlu malu-malu lagi bermesra-mesraan di depan keluarga. Mau berpergian berhari-hari, pulang larut malam, gandengan tangan sepanjang jalan kenangan, tak ada yang larang. Orangtua pun tak akan khawatir . Toh, kita sudah halal, malahan dapat pahala! :)

Banyak sekali alasan yang sepatutnya membuat kita memikirkan lagi kenapa menikah muda lebih asyik ketimbang menunda-nunda.

Karena masih muda, kita bisa belajar lebih bertanggung jawab. Yang biasanya tidak khawatir kehabisan uang bulanan karena bisa minta sokongan orangtua, kali ini kita harus menyiasati bagaimana penghasilan yang kita punya bisa cukup menghidupi dua nyawa sekaligus urusan rumah tangga. Kita akan dituntut selektif terhadap kebutuhan dan keinginan. Tidak akan sulit, karena kita menjalaninya berdua dengan pasangan.

Pada malam hari sebelum tidur, kita bisa berbincang tentang banyak hal. Mulai dari sarapan esok hari, liburan, sampai akan punya anak berapa. Saling bertukar pendapat, menonton film sampai larut, atau sekedar menyanyikan lagu favorit bersama. Lebih bagus lagi kalau pada sepertiga malamnya, kita bangun dan melaksakan shalat tahajjud berjamaah. Dilanjutkan tadarus qur’an, lalu shalat shubuh berjamaah lagi. Duh, jadi pengen cepet nikah!

Tidak ada istilahnya menikah muda rawan pertengkaran karena sama-sama masih labil dan belum bisa mengendalikan emosi. Saya sangat tidak setuju dengan pendapat ini. Karena pada usia berapapun menikahnya, masalah pasti akan ada dalam rumah tangga. Dan tingkat kedewasaan seseorang tidak bisa semata-mata diukur dari angka yang tertera pada usia. Semuanya kembali pada tanggung jawab dan pondasi yang mendasari pernikahan tersebut. Tidak ada masalah tanpa jalan keluar.

Kalau punya anak, beban finansial akan makin bertambah, dong?

Kalau kita menganggap anak sebagai beban, maka setiap biaya yang kita keluarkan akan terasa berat dan mejadi beban. Sebaliknya, jika kita menganggap anak sebagai anugerah, maka kita tidak akan pernah merasa terbebani karenanya. Tiap orang terlahir dengan rezeki yang sudah ditentukan. Jadi tidak perlu khawatir soal biaya hidup dan pendidikan anak di masa yang akan datang. Tuhan sudah menyiapkan rezeki yang lebih.

Mereka yang memutuskan memiliki anak di usia muda tentunya sudah memikirkan matang-matang. Mereka memiliki waktu luang yang lebih banyak bersama anak, juga bisa memantau pertumbuhan anak dan merencakan masa depannya dengan detail.

Jadi, apakah alasan-alasan diatas membuatmu mengubah cara pandang terhadap nikah muda?

Tapi, apapun pilihan yang diambil, semoga itulah yang terbaik. Jangan lupa bahagia! 

17 thoughts on “Nikah Muda?”

  1. Nice posting kakak. Wah pengen juga nikah muda, hahahaha. Tp calon blm punya ^_^
    Sy jg selalu salut sama teman-teman yang sudah membuat komitmen mengakhiri masa lajang di usia muda. Smoga saya dan kakak bs segera ketemu jodoh ya kak, hehehhe

    1. Hai, Arha! Semoga kita sama-sama segera dipertemukan dengan jodoh yang baik ya.
      Btw, makasih udah mampir. :)

  2. Menikah adalah hak tiap individu. Seharusnya tidak ada yg melarang/memaksa seseorang utk menikah. Nikah muda? Keputusan masing2, ga ada yg salah dan benar.

  3. Menikah muda itu sih nggk papa, cuman yang harus dipikirkan itu.

    Saya saat nikah sudah punya pekerjaan layak belum?
    Saya nikah nanti sudah punya rumah sendiri belum?

    Jadi klo mau nikah muda iya, kita punya pekerjaan yang layak dulu gitu

    Iya yang penting menikahnya tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun

  4. Menikah muda itu sih nggk papa, cuman yang harus dipikirkan itu.

    Saya saat nikah sudah punya pekerjaan layak belum?
    Saya nikah nanti sudah punya rumah sendiri belum?

    Jadi klo mau nikah muda iya, kita punya pekerjaan yang layak dulu gitu

    Iya yang penting menikahnya tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun, menurut saya sih

  5. Menikah itu boleh muda boleh tua. Tapi memang lebih baik haruslah yang sudah matang.
    Muda kalau sudah siap mental dan finansial silakan.
    Kalau belum, perbanyaklah kegiatan. Supaya isi pikirannya nggak melulu iri dan sekedar kepingin menuntaskan hasrat seperti sex aja. Kenapa sih harus disandingkan dengan “pacaran setelah nikah itu halal”? Apakah menikah hanya untuk berhubungan badan saja? Kurasa tidak. Banyak hal lain.

    Kenapa pernikahan itu selalu identik dengan itu?

    Menikah itu masa depan.
    Menikah di umur matang juga nggak salah. Justru lebih baik. Mantap semua. Selama belum mampu, berkaryalah.

    1. Masalah kalimat “pacaran setelah nikah itu halal” sih sebenernya berawal dari perspektif aku yang udah selama ini as we know banyak pasangan muda mudi yang salah gaul dan akhirnya ngerugiin diri sendiri, terutama perempuan sih.

      Soal umur pun menurutku identik, gak bisa dibilag umur sekian adalah mateng atau mentah. Karena yang membuat dia mateng itu pola pikir dan sikap.

      hehe kira-kira begitu mbak.

  6. Nikah itu boleh muda atau tua. Yang lebih penting ada yang dinikahinnya. Hehe

    Semoga gue dan kita semua segeraa dipertemukan dengan jodoh masing2. *jodoh dimanakah engkau? Hihihi

    1. Nah, bener juga yah bang wkwk klo gak ada yang dinikahin gak bakal bisa nikah juga walopun udah mampu semuanya :D

  7. Menurut gue sih, ini soal persepsi, ya. Di blog edisi cinta-cintaan, gue pernah ngundang narasumber yg bahas soal ini. Dan… Ya begitulah.

    Menikah muda memang lebih baik daripada pacaran. Gue juga nggak ragu mau nikah muda. Tapi, problemnya adalah bagi cowok, butuh perkerjaan yang tetap saja sudah cukup.

    Kalo nunggu mapan, memang itu persepsi orang yg lain. Tapi, buat gue sih, pekerjaan yang tetap bisa jadi kekuatan orang buat pengen nikah sekarang atau nanti.

    Ya, gue sebagai cowok juga mikirlah. Makan cinta nggak bakal kenyang. Cewek butuh keperluan banyak. Lah, kalo gak ada kerjaan tetap, mau dikasi makan apa?

    Gitu, sih menurut gue. Jadi, yang siap nikah muda bagus. Yang mau nyari kerja tetap dulu, ya bagus. Semua kembali ke diri masing-masing.

    Menikahkan bukan soal dihalalkan saja.

    1. Di tulisan yg mana tu Pange yg tentang cinta2an? Eakk

      Ya betul sih, problemnya itu lebih banyak di cowok sbg penanggung jawab. Keknya tulisan ini lebih cenderung ke wanita sih ya hehe
      Nah yg jadi masalah juga, kebanyakan cowok yg ngulur2 nikah dg alasan belom punya cukup tabungan atau dsb itu ya karna dari awal punya pekerjaan dia gak sempet mikirin soal yg satu itu. Dianggapnya nanti nanti, padahal harusnya sih sedari dini udh dipikirin mateng2

  8. Usia 25-26 itu masih terbilang muda gak sih?

    Masih dalam niat untuk nikah di umur segitu. Karena aku udah mikir semakin usia bertambah, standar untuk mapan itu juga akan bertambah. Mapan kan soal kepuasan, sementara manusia susah untuk merasa puas, jadi selama ada sesuatu yan belum tercapai akan selalu diusahakan.

    Untuk nikah, setidaknya aku udah punya pekerjaan untuk menghidupi 2 nyawa.

    1. Kalo untuk cowo segitu pas kok.
      Yap betul aku setuju yg satu itu, semakin lama kita makin banyak pengennya.
      Ini keknya bisa jadi motivasi juga buat cowok2, jangan nunggu mapan, tapi yg penting punya penghasilan dan yakin.

  9. Kalo gue sih emang setuju sama yang namanya nikah muda. Tapi ada satu hal, belum tentu kita di usia muda sudah berpenghasilan. Misalkan target nikah muda itu umur 20 tahun. Nah, belum tentu di umur segitu kita udah siap buat berkeluarga.

    Tapi, itu semua sih tergantung dari diri kita sendiri. Kalo gue pribadi, mendukung NIKAH MUDA. :D

  10. Wah. Nikah muda sebenarnya bukan masalah, sih. Setiap orang punya hak untuk menentukan kapan ia menikah.
    Tapi tentu saja karena alasan yang positif ya. Haha.

    Kalau aku sih yes untu nikah muda. Tapi aku nggak mau nikah muda. Maunya nikah mateng. :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *