Perempuan dan Hujan

Storiette

Hujan di balik jendela

Rintik hujan yang menderas hingga membuatnya berteduh di sebuah warung kecil pinggir jalan tadi akhirnya reda juga. Pelan-pelan kakinya cekatan menghindari genangan air bekas hujan itu.

Perempuan itu tiba dengan baju yang sedikit kusut. Sama kusutnya dengan hari sabtu kelabu yang diguyur hujan. Padahal ia sudah berjanji untuk datang tepat waktu.

Taman itu cukup besar dan hijau. Terlihat segar dengan bunga-bunga yang banyak bertebaran. Mungkin diterpa angin. Oh, ini sabtu, tapi hanya segelintir orang yang terlihat. Wajah mereka muram, sepertinya hujan memang punya kekuatan magis untuk mengubah suasana hati seseorang.

Perempuan itu mulai bicara setelah mengambil tempat yang agaknya tak terlalu basah.

Ia tersenyum sambil meletakkan buket bunga di sisinya, “kau sudah menunggu lama.”

“Hari ini kacau. Pagi-pagi sekali aku harus pergi ke kantor karena mendadak ada pertemuan dengan klien. Bosku itu masih saja meracau karena empat hari kemarin aku mengambil cuti sedangkan ia meminta dokumen-dokumennya direvisi dan segera diserahkan lusa. Ibu menelepon memintaku pulang, beliau sakit. Ah, aku sendiri tak ingat kapan terakhir kali pulang ke rumah. Barangkali akupun sudah lupa jalannya.”

Empat ratus sembilan puluh satu hari sebelum hari ini.

Mereka duduk di tepi pantai usai lelah berlarian. Perempuan itu menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih. Mereka menghabiskan penghujung sore dengan bercumbu dalam diam. Tangan mereka saling erat menggennggam. Matahari hampir menyentuh horizon, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil terlihat berwarna merah, berisi cincin. Ia menyondorkan pada perempuan pujaannya, ‘maukah kau menjadi satu-satunya rumah bagi rinduku untuk pulang? Will you marry me?’

Perempuan itu tergugu menahan haru. Ia tak pernah berpikir akan dilamar seperti pada cerita-cerita novel yang ia baca. Ia menjadi tokoh itu sendiri dalam novel hidupnya. Perempuan itu mengangguk, memeluk lelakinya.

Tiga ratus enam puluh empat hari sebelum hari ini

Perempuan itu duduk termangu. Di hadapannya sebuah laptop, kursornya hanya berkedip-kedip menunggu jemarinya menari di atas tuts. Berkali-kali ia mengetik, tapi berkali-kali juga ia menekan Del.

Sudah empat hari dan ia masih berkurung di dalam kamar. Puluhan pesan masuk bertubi-tubi di ponselnya. Telepon terus berdering. Ia mengabaikan.

Entah sudah berapa cangkir kopi yang ia teguk. Perutnya sudah mual. Ia membuka jendela dan tirainya, berharap hujan yang deras di luar sana akan menukar udara kamar yang pengap dengan udara yang lebih segar. Matanya terlihat sembab. Bibirnya pucat. Rambutnya tidak karuan. Oh, wajahnya bahkan lebih buruk dari zombie.

Dia sudah lelah. Perempuan itu sangat lelah. Dia tahu dia tak akan lebih baik jika hanya terus berkurung seperti ini. Dia beranjak dari kursi tempatnya seharian ini duduk. Langkahnya gontai menuju kamar mandi.

Empat ratus dua puluh enam hari sebelum hari ini

“Kita hanya makan malam, jadi tidak perlu lama-lama berias. Kamu sudah lebih cantik dari bidadari,” kata seseorang di ujung telepon, membuat perempuan itu di ujung satunya tersipu. “Nanti kujemput sepulang kerja.”

18.25 WIB

Perempuan itu duduk di beranda rumahnya. Sudah hampir satu jam tapi lelaki itu belum juga tiba, padahal biasanya hanya perlu lima belas menit. ‘Mungkin macet’,  pikirnya.

Ponselnya berdering. Nama lelaki itu tertera di layarnya.

Suara di ujung sana begitu ramai. Lelaki itu menyebut-nyebut namanya. Tapi bukan suara lelaki yang pagi tadi meneleponnya. Bicaranya tergesa-gesa.

Hujan deras sekali.

Perempuan itu limbung. Tak sadarkan diri.

Hari telah petang.

Lamat-lamat ia memandang sebuah foto di tangannya. Seorang lelaki sedang merangkul kekasihnya.

Lalu ia menyelipkan foto itu di antara bunga-bunga dalam buket di sebelahnya.

Hari telah petang.

Perempuan itu beranjak.

Ia tersenyum seraya menyeka air mata di pelupuk matanya.

Hari telah petang ketika perempuan itu meninggalkan pusara kekasihnya.

“Hari ini aku berhasil mengenangmu. Hari ini aku berhasil merelakanmu.”

Hari telah petang.

Hujan kembali turun. Deras.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *