Perempuan Kejora

Poem

Beberapa orang mungkin mengenalnya sebagai bintang timur. Lalu ada juga yang menyebutnya Venus, planet biru yang biasa terlihat di bagian timur pada dini hari. Lain lagi yang mengatakan terbitnya di waktu maghrib, sebelah barat.

Tapi aku lebih suka memanggilnya Bintang Kejora. Karena dengan nama itulah ia dikenal. Lepas dari wujudnya sebagai planet atau timbulnya di langit bagian mana. Namanya tetap sama, seperti yang kita tahu.

Hampir satu tahun yang lalu, kali pertama mendaki gunung. Menjelang waktu shubuh di perjalanan, langit masih sangat pekat. Tapi titik-titik gemerlap di atas sana mencuri pandangku. “Itu bintang? Sebanyak itu?” batinku. Bagus. Kerlap-kerlip mereka mampu menghipnotis sepasang mata ini. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali pernah melihat mereka dengan ketakjuban seperti ini.

Kemudian malam ini, pikiranku bergulat dengan kata-kata ‘lagi’. Masih dalam pencarian sebuah nama. Yang entah bagaimana bisa membawaku pada Kejora. Aku suka senja, fajar, pelangi, bahkan hujan sekalipun. Tapi sulit mendeskripsikan tentang kejora ini.

Meski mereka semua sejatinya memiliki keindahan masing-masing; senja dengan semburat jingganya yang menawan, fajar dengan goresan langitnya yang elegan, pelangi dengan warna-warninya yang cemerlang, lalu hujan dengan rintik merdu yang sejuknya mengundang. Tapi yang satu ini, kejora, apa yang istimewa darinya?

Ia tak pernah muncul ketika matahari menguasai bumi. Ia bersembunyi di balik gelap, lalu terbit ketika manusia mulai penat dan masih terlelap. Manusia tak mengenali dirinya, hanya tau namanya. Tapi ia ada, membersamai bintang-bintang lain di angkasa. Ia terlihat oleh penikmat malam yang tak sempat bermanja di kala siang. Cahayanya berkilatan, menggoda penglihatan.

Kejora… ia tak pernah sementara. Ia hanya tak terlihat karena biasan cahaya sang mata-hari yang dahsyat. Masih di langit yang sama, ia hanya memberi waktu para pecintanya untuk merindu. Biarlah terang membuat mereka lelah, karena kejora kan bersenandung bersama kedamaian tanpa gundah. Ia selalu ada, bahkan ketika yang merindu hampir hilang asa.

Untuk mereka yang kucinta, Tuhan… aku ingin seperti kejora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *