Perkara Jodoh

Betapa banyak pemuda yang saat ini tengah mendamba untuk segera dipertemukan dengan jodohnya, yang tengah memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya agar kelak jodohnya pun dari golongan orang-orang yang baik lagi memperbaiki diri.

Pun saya, yang beberapa kali menyaksikan langsung betapa ayat Allah memang nyata kebenarannya. Bahwa lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik, dan lelaki yang buruk untuk perempuan yang buruk pula. Bahwa dua anak manusia tersebut merupakan cerminan diri masing-masing.

Tapi betapa banyak juga yang lupa, bahwa sesungguhnya kematian adalah jodoh yang lebih pasti kedatangannya.

Pun saya, yang terkadang lebih sibuk membenahi diri untuk sang suami di masa depan yang bahkan saya tidak tahu kapan adanya. Yang kadang lebih sibuk mempelajari resep-resep masakan daripada membaca surat cinta-Nya. Yang kadang lebih tergiur dengan produk perawatan daripada memperbanyak sujud. Yang kadang lebih sering condong kepada dunia daripada akhirat.

Kita amat sangat lupa, bahwa jodoh datangnya bisa di dunia atau di akhirat. Sedangkan kematian kedatangannya hanya di dunia, dengan tanpa aba-aba.

SEANDAINYA jika kita lebih dulu bertemu jodoh, menikah, lalu kelak di kemudian hari kita menemukan bahwa pernikahan itu ternyata tidak baik atau bahwa jodoh tersebut kurang baik. Masih bisa kita kemudian sama-sama belajar, memperbaiki diri dan rumah tangga tersebut, bahkan jika sudah tidak memungkinkan (untuk diperbaiki) masih Allah bolehkan kita bercerai dan/atau menikah lagi.

TAPI ketika ajal yang datang lebih dulu, jasad sudah dibungkus dan ditimbun tanah, ruh sudah berada di alam kubur, tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri, tak bisa lagi meminta hidup untuk kembali betaqwa, bahkan tak bisa lagi untuk sekadar mengucap satu kalimat istighfar.

Lantas kenapa selagi belum bertemu keduanya kita sudah begitu yakin akan keselamatan diri kita di akhirat?

Bagaimana bisa kita begitu yakin dengan cukupnya amalan yang kita siapkan?

Kenapa masih merisaukan perkara yang sudah Allah janjikan (jodoh) ketimbang apa yang harus benar-benar kita usahakan (akhirat)?

 

Catatan Untuk Diri Sendiri

Tangerang, 1 Juni 2017

2 thoughts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *