Pisang Goreng dan Secangkir Kopi

Ini bukan kali pertama aku seperti ini. Mendadak ingin lari dari kenyataan dan bersembunyi di balik kesunyian. Aku sedang tidak ingin meyakini perasaan yang timbul tenggelam dan gaduh di dadaku. Atau pada isi kepala yang berisik berasumsi dan mendiktekan ini itu tentang perasaanku.

Aku sedang rindu pada pagi yang manis dengan pisang goreng dan secangkir kopi di meja keluarga.

Lebih tepatnya, aku rindu seseorang yang sangat suka pisang goreng dan segelas kopi sebagai pembuka harinya. Yang ketika dia tengah sibuk membaca buku atau menonton berita, aku diam-diam menyeruput kopinya sampai habis, lalu ketika sadar, dia akan pura-pura heran dan minta untuk dibuatkan lagi.

Maka benar jika mereka bilang cinta pertama anak perempuan adalah pada ayahnya. Sebab sesederhana itu aku dibuatnya jatuh cinta.

Aku ingin sekali menceritakan apa saja yang telah aku alami sejak ribuan pagi berlalu tanpanya.
Aku ingin dia cemburu sebab aku lebih suka duduk berlama-lama di kedai kopi bersama teman-temanku ketimbang menemaninya berdiskusi tentang buku atau berita terbaru.
Aku ingin dia marah ketika aku pulang larut malam dan tak mengabarinya.

Aku ingin dia tahu bahwa meski ribuan pagi telah berlalu, merindukannya masih tetap terasa pilu.

Aku mungkin akan kehabisan kata untuk bicara tentang masa depan atau selalu waspada tentang hari yang dia pernah cemaskan. Namun pada akhirnya hari itu tiba dan aku hanya perlu dia untuk kuceritakan tentang perasaan yang akhirnya muncul dan meletup-letup dalam diriku. Seperti jatuh cinta, pada pria lain selain dirinya.

 

Tangerang, 9 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *