Pulang (3)

Storiette
"Going Home" by Pawel Matys
“Going Home” by Pawel Matys

Hari itu mendung.

Aku berdiri mematung di persimpangan jalan, memandang sebuah rumah tua dari balik kacamataku. Catnya terlihat pudar, banyak bekas retakan pada dinding, tumbuhan liar mulai menjalar di pekarangan.

Rumah itu sama menderitanya denganku.

Hari itu mendung.

Aku berdiri mematung di persimpangan jalan, memandang sebuah rumah dari balik kacamataku. Catnya hampir pudar, di beberapa bagian dinding terdapat retakan, tumbuhan hijau tumbuh segar di pekarangan.

Seorang lelaki yang aku kenal keluar dari rumah tersebut. Langkahnya masih gagah meski aku tahu sekali usianya sudah lebih dari setengah abad. Sorot matanya tajam menyiratkan keberanian. Garis wajah yang keras itu seperti menggambarkan kerasnya perjuangan hidup yang sudah dia jalani selama ini. Dan, oh, dia sangat memperhatikan penampilannya. Rapih sekali.

Lelaki itu melambai ke arahku. Sepertinya cuaca yang mendung tak lantas membuatnya turut murung. Senyumnya yang sumringah begitu tulus dan hangat.

Dia menyambutku.

Ingatan itu langsung terputar otomatis di kepalaku. Membuka lagi kenangan yang sudah bertahun-tahun lalu kutinggalkan. Aku masih ingat betul tiap detail kejadian sebelum dan sesudah hari itu.

Hari itu mendung.

Dan aku masih berdiri mematung di persimpangan jalan. Jalan yang menyimpan banyak kenangan tentang diriku. Juga rumah itu.

Aku tidak pernah melupakannya. Sungguh. Aku hanya mengalihkan semua hal yang berkemungkinan mengingatkanku padanya. Aku lari dari kenyataan.

Hari itu, setelah delapan tahun berlalu, aku memutuskan berdamai dengan masa lalu.

Aku ingin mengenangnya sebentar.

“Selamat harimu, Ayah.”

1 thought on “Pulang (3)”

  1. Hai cili, tampaknya dari tulisanmu kali ini terdapat banyak kesedihan yang engkau pendam, semoga segalanya akan berjalan baik kedepan :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *