Renjana dalam Secangkir Kopi

Storiette

PhotoGrid_1444372115393

Dini hari sudah cukup bagi sepi untuk menambah siksa kepada para pelaku rindu yang tengah terjaga.

Perempuan itu enggan tidur. Dia memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Dilangkahkan kakinya menuju dapur. Dia mengambil cangkir dan menyeduh dua sendok kopi hitam. Kesukaannya, tanpa gula.

Secangkir kopi pada dini hari tidaklah buruk, batinnya. Setidaknya dia tak merasa sendiri.

Malam kemarin, juga malam kemarinnya lagi, dia kerapkali menemukan dirinya termenung, sibuk berdiskusi dengan pikiran.

Kali ini, dia ingin menghidupkan imaji-imaji tentang romansa dan kejadian beberapa waktu lalu. Bersama secangkir kopi yang ia ecap sesaat setelah membaui aromanya, dia duduk di beranda. Demi membandingkan malam mana yang lebih indah. Bulan purnama atau sabit. Jawabannya selalu kembali pada sebuah nama, dengan atau tanpa bulan.

Desau angin terdengar lembut, seperti nada-nada yang pernah dibuatnya untuk musikalisasi puisi, tapi sayang tak pernah ada diksi yang tepat untuk mengisinya.

Perempuan itu masih duduk dengan takzim, kesepiannya seperti lesap bersama kopinya yang mulai menghangat. Dia pandai sekali menakar rasa. Seimbang dengan sunyi yang tengah menghuni benaknya. Juga renjana yang selama ini selalu berhasil dia kendalikan setiap kali meneguk kopi hitamnya.

Tapi malam ini dia membiarkan rindu menguasai dirinya. Ada sesak yang diam-diam menelusup ke hatinya. Dia pasrah, mengijinkan si pemilik rindu datang menjelma dalam fragmen kenangan di otaknya.

Perempuan itu meneguk lagi kopinya. Satu-satunya cara berdamai dengan pikirannya, dia harus bertahan setidaknya sampai tegukan terakhir.

Adalah karena lelaki dengan sepasang mata sendu itu, hatinya luruh.

 

Jakarta, 9 Oktober 2015

2 thoughts on “Renjana dalam Secangkir Kopi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *