Salam Rindu Untuk Kaba

Dengan ketinggian 1.938 MDPL, gunung Bukit Kaba ini sangat populer di kalangan (maha)siswa pencinta alam atau freelance yang berdomisili di daerah Bengkulu dan Sumatera Selatan. Saya sendiri sudah gak asing mendengar namanya, namun baru berkesempatan mengunjunginya pada akhir tahun 2015 lalu.

Bermodalkan niat yang sudah saya bungkus jauh-jauh dari Jakarta, sambil mudik ke Lubuklinggau, saya akhirnya pergi ke Kaba.

Rizki, Zul, Reza, Wahid, dan Sono merupakan perwakilan dari BPK Oi Palembang yang pernah mendaki bersama saya waktu ke Seminung lalu, telah menempuh kurang lebih 8,5 jam Palembang-Linggau, tiba pada subuh hari dan menunggu saya yang baru tiba di titik kumpul pukul delapan pagi. Oh, ya, ada juga Bang Salman, perwakilan BPK Oi Lubuklinggau.

Sesaat setelah saya sampai, kami segera bergegas berangkat menggunakan mobil angkutan yang sudah disewa sebelumnya khusus untuk mengantar kami sampai ke basecamp.

Hanya butuh waktu kurang lebih dua jam untuk kami tiba di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupuh Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Sebelum memulai pendakian, seperti biasa, kami mengecek dan mengepak kembali peralatan dan perlengkapan. Kemudian melakukan pendataan dan doa bersama.

Ada dua jalur dibuka untuk pendakian; jalur rimba dan jalur aspal. Pendaki umumnya lebih memilih jalur rimba karena vegetasinya masih alami dan sensasinya yang lebih greget. Sedangkan jalur aspal, biasanya dilintasi motor penduduk untuk mengangkut dagangan dan/atau penumpang yang ingin ke puncak tanpa harus capek-capek jalan.

Saya tegaskan; IYA, DI KABA ADA OJEG UNTUK WISATAWAN YANG MAU MUNCAK TAPI MALES JALAN, DAN DI ATAS PUN ADA WARUNG YANG JUAL  MAKANAN DAN MINUMAN KALO KALIAN MALES MASAK.

Kami memilih jalur aspal, soalnya kami mau naik ojeg biar gak capek. Ehe, becanda deng. Kami pilih jalur aspal karena suka-suka aja. Ga deng, becanda lagi. Karena sebenarnya di antara kami gak ada yang hapal jalur rimba, jadi lebih milih jalur aspal yang sudah jelas.

Kalau perkiraan saya gak salah, waktu itu kami tiba di pelataran Kaba sekitar pukul 13.00 dengan lama pendakian sekitar dua setengah jam. Memang di sepanjang jalur banyak ditemui motor-motor yang melintas dengan mengangkut barang dagangan warga, ada juga yang mengangkut wisatawan yang padahal kalau saya lihat, sih, mereka tuh masih muda dan sanggup jalan. Hmm…

Pas banget. Waktu kami tiba, hujan turun berderai-derai bak perempuan yang tengah menangis dirundung duka kehilangan sang kekasih. Gak terlalu deres, sih, tapi cukup mengerikan karena langit yang tadinya terang benderang seketika gelap disertai hembusan angin yang kencang. Beruntung kami masih sempat mendirikan dua tenda dan mengamankan barang-barang dari kebasahan.

Pun sore harinya, hujan masih galau antara mau udahan atau tetap lanjut. Jadilah, kami melewati hari di dalam tenda, diperparah lagi karena Wahid, Sono, dan Rizki drop.

Pagi harinya kami melewatkan sunrise. Tapi alhamdulillah tidak melewatkan sarapan dan foto-foto narsis. Yuhuu!

GOPR9389_1450960168198_low

Pukul 9.00, kami mengemasi barang-barang dan bergegas melanjutkan perjalanan ke puncak. Lalu narsis-narsis lagi, yay!

PhotoGrid_1460119887490
Kiri ke kanan: (lupa namanya), Cili, Rizki, Sono, Wahid, Reza, Zul, Bang Salman

Perlu diketahui, dari pelataran ke puncak kawah ini betul-betul menguras tenaga, yhaa kalau kalian pernah ke Bromo dan naik tangga yang bejibun itu, nah di Kaba pun perlu naik tangga yang lumayan dulu sebelum bisa menikmati keindahan di atas. Orang-orang menyebutnya “tangga seribu”.

PhotoGrid_1460120046501

GOPR9442_1450959977609_lowAdalah sekitar satu jam kami di puncak, kemudian turun tangga lagi dan berbelok ke kanan untuk menuju jalur rimba.

Sebetulnya, masih ada dua kawah lagi yang gak kalah keren untuk dikunjungi, tapi berhubung matahari semakin terik dan saya ngantuk banget, jadi hanya Zul dan Reza yang ke sana, sedangkan saya dan empat kawan lainnya singgah di bivak pendaki lain yang juga sedang beristirahat. Ada waktu setengah jam untuk tidur siang sambil menunggu dua kawan yang saya yakini sedang berlaga berbagai pose di kawah sana.

1460358862640
Zul in frame
1460358869044
Zul & Reza, cie~

1460358867885

Perjalanan turun melewati jalur rimba rupanya cukup menyenangkan. Vetegasi yang masih rimbun melindungi kami dari ganasnya sengatan matahari kala itu. Di tengah perjalanan juga kami menemukan sumber air panas yang memang sudah sering dimanfaatkan pendaki untuk mandi dan menyegarkan badan. Iya, tapi tetep aja gue gak ikut berendem dan cuma jagain barang-barang. -_-

Setibanya di bawah, pukul 14.00, sambil menunggu jemputan, kami menyempatkan diri untuk mandi (lagi) dengan lebih bersih, supaya nanti ketika sampai di Linggau, kami tinggal istirahat dan makan. Yap, kami lapar!

Jemputan tiba pukul 15.00, dan sama seperti kemarin; dengan waktu kurang lebih dua jam, kami tiba di Linggau pukul 17.00.

Lalu kami hore-hore bersama sampai malam~

—-

Nuhun atuh yak kalo foto-fotonya kurang lengkap, soalnya selama di jalur gak sempat foto-foto. :(

—-

Estimasi waktu dan biaya:

23 Desember 2015,

08.00 – 10.00 : Lubuklinggau – Rejang (Rp 35.000)

10.30 – 13.00 : Basecamp – Pelataran (via jalur aspal)

24 Desember 2015,

09.00 – 09.30 : Pelataran – Puncak Kawah

09.30 – 10.30 : Waktunya narsis

10.30 – 11.00 : Puncak Kawah – Jalur rimba

11.30 – 14.00 : Turun (via Jalur Rimba)

15.00 – 17.00 : Rejang – Lubuklinggau (Rp 35.000)

Simaksi Rp 7.000/orang

Ojeg dari basecamp ke puncak Rp 60.000/sekali jalan, Rp 100.000/pp

—-

Anyway, waktu nulis ini, saya dalam kondisi lagi kangen seseorang. Jadi saya buat judulnya seperti itu, karena dalam bahasa Serawai, “Kaba” artinya “kamu”.

14 thoughts

  1. Tuh kan bener dugaanku ‘kaba’ itu kamu, aku udah menduga dari awal macem ‘niku’ nya bahasa lampung. Kalo temen temenku anak semendo pake ending ‘h’ gitu. Masih serumpu mungkin.

    Ngakak aja itu kupikir kalian akan menggunakan jalur rimba. Jiahh ternyata jalur aspal, jadi inget pengalaman naik naik bukit gitu yg juga ada jalur aspalnya demi secercah sunset. Tapi aku dalam kondisi yg menggunakan motor. Kasihan liat mereka2 yg pada gendong ransel sambil nanjak bukit, kayaknya wajahnya frustasi banget, sedang aku enak enak dibonceng hahahaha

    Tapi jelas keseruannya berbeda. Pasionnya juga beda beda. Secara aku orangnya simple dan ogah capek hehehe

    Anyway itu zul awas lho nyemplung kawah dohh kok ngeri amat potonya diujung jurang.

    1. Hahaha, iya karena memang sengaja mau camp di pelataran yang lebih deket ditempuh jalur aspal. Baru deh turunnya lewat jalur rimba. Waah, mbak Latifah dari Lampung, kan? Dah pernah ke Rajabasa?

  2. Wah, daripada ngojek atau jalan kaki, aku sih milih bawa motor sendiri. (kalo ada parkirannya). Nggak capek, keluar duit cuman buat bensin, gak nyampe 60rb/100rb.
    Jadi, Kaba yang setinggi 1938mdpl itu gunung apa bukit? Kok nyebutnya Gunung Bukit Kaba?

    1. Gak ada parkiran, tapi banyak lahan landai untuk markir motor. Tapi yha menurutku kalo mau bawa motor, harus bener2 punya skill ekstra, karena jalur aspalnya juga asoy berkelok dan cukup curam gitu.
      Kaba itu gunung, karena kalo bukit gak mungkin punya kawah. Dan menurut beberapa sumber, nama gunungnya itu Bukit Kaba. Jadi, gunung Bukit Kaba. XD

  3. Wih, Bukit Kaba ini keliatannya bagus banget jadi objek wisata atau sekedar jadi objek foto-fotoan aja. Tapi masih dalam pulau sumatera, jadi aku yang sekarang ini berdomisili di Medan, gak bisa langsung ke sana deh. Memang estimasi biayanya sih 100.000 sampai 200.000 juga sih, tapi kan ongkos pesawat berapa hehe.

    Aku sih, hanya bisa ngelihat beberapa keindahan kepingan surga di Indonesia hanya di blog kamu aja, soalnya sih blogmu ini isinya tentang traveller semua yaa? Kalau lagi pengen liat destinasi wisata, blogwalking ke sini deh hehe.

    Nice postt :)

    1. Aku pengin banget loh ke Medan! Bisa lah yhaa nanti kapan-kapan kalo ke sana kamu yang ngehost. Ehe.
      Whaa klo ke Kaba doang tanggung, mending ke Kerinci aja yg lebih deket dari tempatmu.
      Kadang isinya curhatan juga kok XD

      1. Kalau ke Medan, satu destinasi yang harus dikunjungi adalah Danau Toba ! Ga lengkap rasanya kalau berkunjung ke Sumut, nyobain semua makanan Medan, bergaul sama orang Medan, tanpa mengunjungi salah satu kepingan surga yang ada di Sumut.

        Aku tunggu yah hehe :)

        Kak, boleh kasih saran gak? Mending kakak tambahin fitur search box di blog kakak ini, biar gampang nyari postingan. Soalnya belakangan ini aku sering mampir kesini hehe.

  4. Waaaahhhh poto-potonya bikin envi… ini seriusan ada di lampung ya? bukan orang lampung sih tapi kok indah banget, jadi pengen kesana… Kalo main ke lampung biasanya ke pantai mulu gak pernah ke gunung…

    Kalo tangga seribu itu emang bener jumlahnya ada 1000 gak?

    1. Ini bukan di lampung, mbak. Tapi di Rejang, provinsi Bengkulu.
      Whaa ga tau deh gak ngituingin juga sih :D

  5. so lucky guys..kalian masih bisa muncak bareng temen temen dan pasti juga masih punya banyak waktu luang dan pikiran belum bercabang. Walau pun ke atasnya nggak pake jalan yang penuh rintangan, alias lewat di jalan yang beraspal gitu..yah nggak papa yang penting bisa muncak dan foto foto buat kenang kenangan yah..wehehehehe. tetep bisa camping dan liat kawah yang amazing banget juga!!

    gue malah belum pernah ngerasain camping di gunung, naik gunung juga cuman sekali dulu waktu mash kuliah dan itu cuman one-day trip aja. Kapan kapan harus naik gunung lagi ahh…

  6. Manteb, anak Gunung juga ternyata hehehe.
    Cerita traveling akan lebih indah dan sejuk di dengar manakala pola ceritanya menggunakan bahasa metafora atau hiperbola, itu nanti akan sangat memikat kawan kawan yang lain.
    Kapan kapan lah hiking bareng Blogger Jakarta hehehe.
    Good buat yang satu ini mbak Cili.
    Ternyata eh ternyata Kaba itu kamu jihahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *