What Is So Special About Montessori?

#30HariBercerita Parenting
Credits to instagram.com/ottokim

Memasuki masa menjadi ibu adalah sebuah perubahan yang benar-benar clueless untuk saya. Beradaptasi dengan manusia mungil yang baru hadir di dunia dan sebagai orangtua, saya mengemban tugas yang tidak mudah. Selain masalah sandang, pangan dan papan, yang saya pusingkan soal anak adalah parenting. Bagaimana nanti saya mengajari anak saya tentang berbagai hal is totally clueless. Ketika saya melihat anak-anak kecil yang tumbuh menjadi anak yang mostly nice, friendly, sopan, teratur, saya bertanya-tanya, “bagaimana, ya, cara orangtuanya mendidik mereka?” Atau sesederhana melihat gigi-gigi mereka tumbuh rapi dan bagus, pertanyaan muncul di kepala saya, “bagaimana cara merawat giginya? Sejak kapan dikenalkan dengan kegiatan menyikat gigi?” dan hal-hal lain yang menumbuhkan pertanyaan yang bercabang-cabang di kepala saya.

Di tengah semua kebingungan itu, qadarullah saya dipertemukan dengan akun instagram Bu Damar (@damarwijayanti), seorang ibu yang menerapkan Montessori sebagai parenting style-nya, yang setelah saya cari tahu, sedikit banyak menumbuhkan ketertarikan pada diri saya untuk terus mempelajarinya, yang kemudian mulai meyakinkan diri saya bahwa metode inilah yang saya pilih untuk mendidik anak saya nantinya.

Untuk bisa mendidik anak dengan baik, maka tentu saya juga harus belajar menjadi pendidik yang baik. Pagi ini saya mendengarkan podcast Bu Damar tentang mengapa memilih Montessori parenting, saya menemukan alasan-alasan yang dikemukakan bu Damar sesuai dengan apa yang saya cari selama ini.

  1. Montessori menjelaskan bahwa anak itu memiliki inner teacher di dalam dirinya, sehingga anak bisa mengajari dirinya sendiri. Anak usia 0-6 tahun itu seperti spons yang menyerap segala hal di sekitarnya. Jadi sebetulnya orangtua tidak perlu khawatir bagaimana mengajari anaknya, karena anak akan mempelajari sendiri apa yang ada di sekitarnya. Yang perlu dijaga adalah pemilihan informasi seperti apa yang kita inginkan untuk anak kita serap. Tugas orangtua hanya mendampinginya, mengawasi dan mempersiapkan lingkungan yang bersih agar yang diserap anak bukanlah sesuatu yang kotor.
  2. Montessori melihat anak sebagai makhluk hidup yang luar biasa. Montessori mengubah pandangan orang-orang dewasa yang melihat anak-anak sebagai individu yang nakal, rebel, sulit diatur menjadi individu yang luar biasa. Apapun yang dilakukan anak-anak sebetulnya memiliki tujuan. Anak-anak hanya memiliki good intention, tidak memiliki niat atau sesuatu yang buruk karena mereka belum mengenal itu. Jika anak-anak dengan sengaja melakukan hal yang dianggap orangtuanya buruk, maka yang diubah bukan anaknya, melainkan perspektif dan pola pikir orangtuanya.
  3. Montessori sangat menghormati dan menghargai setiap individu. Setiap anak itu unik, memiliki kemampuan belajar, potensi dan pace masing-masing yang tidak bisa disamakan/dibandingkan dengan anak-anak lain. Metode pendekatan (approach) yang dilakukan ke setiap anak masing-masing pun berbeda. Meski prinsip yang dipakai sama, namun prakteknya tetap disesuaikan dengan kondisi anak.
  4. Montessori melihat anak-anak berkembang secara holistic. Anak-anak memiliki 5 area perkembangan yaitu fisik, bahasa, kogitif, mental, dan sosial. Montessori menyentuh lima area tersebut. Sehingga diharapkan nantinya anak-anak yang dididik dengan Montessori tidak hanya menjadi pintar, melainkan juga bahagia.

Hmm sebetulnya masih banyak lagi hal-hal tentang Montessori yang sudah dipraktikkan dan dibagikan sama Bu Damar melalui instagramnya. Jadi Montessori itu tidak terbatas sama sekolah Montessori saja, ya, tapi bisa dipraktikkan juga di kehidupan sehari-hari bahkan di rumah.

Rangkuman di atas adalah catatan personal saya dari podcast bu Damar, dan tentunya akan terus berlanjut selama saya masih terus belajar tentang parenting ini. Semoga bisa betul-betul menerapkannya! hihihi

 

Tangerang, 20 Januari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *